Tentang Bajo yang Bukan Lagi Sekedar Mimpi (Part #3)

by - Mei 02, 2018

bawa aku kembali dimana hatiku sudah terpatri

Bajo 24 Maret 2018

PHP Cuma 5 Menit
dorm
Suara grup WA membangunkan dari tidur lelapku di hari terakhir aku stay di Bajo Nature Backpacker. Hooaahhhmmmm akhirnya tidurku nyenyak juga setelah minum 2 sendok obat batuk. Sambil mulet-mulet di bed ku yang empuk, aku ngecek hp. Ada ratusan notif grup WA dan 3 misscall. Udah jam 7 aja, padahal aku harus mepo jam 8 di pelabuhan. Pantes dari tadi Bang Anto misscall sampai 3 kali karena semalam kita janjian buat berangkat bareng ke pelabuhan. Dan ujung-ujungnya dia WA
“udah bangun cynt?” (mungkin dia lelah misscall).
“Bang Anto, aku baru bangun, tunggu yaa jangan jalan dulu. Mau mandi ama packing dulu”
“ok, jangan lama-lama, yang lain udah ngumpul”
“OK”


Kelar mandi dan make up, aku disambut lagi sama selebgram ganteng Kak Rizal, bisa bayangin ga sih kamu sarapan di temenin orang ganteng, charming, berkharisma?? uwuuuu.
“kak, jangan pergi dulu, foto yuk”
“haha iyaa iyaaa”
“thanks kak, see you when i see you again, siapa tahu aku bisa nyusul kaka jadi selebgram”
“aamiin pasti bisa kok”
After breakfast, aku balik lagi ke bed dan packing barangku yang seabrek itu. Aku kurang jago packing gengs, buat packing sendiri aja aku butuh 30 menit itupun bongkar pasang. Tiba-tiba ada telpon dari Bang Anto
“udah kelar belum? Buruan ini udah 7.45 anak-anak udah pada ngumpul”
“5 menit ok 5 menit”
staff hostel
Buru-buru aku selesein packing dan foto sama staff hotel, Bang Anto nge-WA
“5 menitnya dikali berapa cynt?
“iyaa iyaa ini otw
Karena hostel kita tetanggaan Cuma 5 langkah (ahelah kaya lagu pacar 5 langkah), dia senyum-senyum bete gitu dan hal yang pertama kali dia komen adalah
“5 menitnya dikali 5 yaa cynt?”
“maaf abang hehehe”

Dan aku melongo ngelihat bang Anto Cuma bawa 1 daypack itupun di dalamnya ada drone, kamera mirrorless, gopro, fin, snorkel, baju, gileeeee. Sedangkan aku, cant you imagine, badan bogel kaya aku bawa daypack 35 liter full terus jaket gunung ku selipin di pinggang, kanan bawa tas bulu, kiri bawa tentengan indomaret (ini aku bawa dari Jakarta karena di Bajo ga ada Indomaret atau Alfamart). Sumpah tante rempong, kayanya aku harus belajar packing deh.

20 menit jalan kaki dari hostel ke pelabuhan dengan cuaca terik dan bawaan rempong bikin aku keringetan sebelum sailing (dan kita orang terkahir yang sampe). Dari 30 orang itu dibagi menjadi 2 kapal, aku sama Bang Anto masuk ke rombongan kapal 20, misah dari squad Rangko yang di kapal 10. Huhuhu. But its okay still I cant wait for sailing.

Sang Phinisi yang Berlayar Pertama Kali
Pertama kali menginjakkan kaki di kapal, aku sentuh body kapalnya. Hmmm catnya masih terasa basah dan bau menyengat.
Desain interior kapalnya mewah, piring dan gelasnya dari porselen mahal. Dalam 1 kamar muat untuk 4 orang ada AC dan 2 bed tingkat dilengkapi handuk dan selimut. Toiletnya ada 2 dan itu bagus banget.


ABK nya ramah dan sigap membantu. Ada mama yang memasak buat kita selama sailing.


Yaa betapa beruntungnya kami bisa mencoba kapal phinisi yang baru 99% jadi dan berlayar pertama kali bersama Backpacker Jakarta.

Ketika phinisi itu melaju aku berdoa dalam hati “yaa tuhan, ijinkan aku kembali kesini lagi”. Tak berapa lama, phinisi kami berlabuh di destinasi pertama.

Lenje di Pulau Kelor
Gengs serius, aku ga bermaksud buat lenje, aku ini strong dan aku woman, jadi aku strong woman. Tapi gatau kenapa pas kemarin bener-bener lenje banget.
Jadi gini, kalau kalian sailing, phinisi itu selalu narik boat kecil. Gunanya ketika phinisi itu berlabuh dan lempar jangkar di tengah laut, boat kecil itu akan ngangkut kalian dari phinisi ke bibir pantai. Nah begitu sampai, anak-anak pada rempong gitu ngeliatin aku mau turun dari boat dengan gaya lenje (mungkin mereka belum terbiasa sama gayaku). Terus kita trekking ke puncak Kelor biar dapat view dari atas.

Nah salahku disini adalah aku pakai sandal jepit, sedangkan kondisi bukitnya itu licin berdebu banyak batu dan itu sakit banget nembus sandalku yang tipis. Untungnya selama trekking aku ditemenin Bang Biru Dongker dan Bang Galih. Ngos-ngosan dan kepeleset berkali-kali ga mengurungkan niatku foto di atas puncak Kelor.
babang. meskipun kamu menghitam kamu tetap tamvan @galihdaniel
squd kapal goyang lagiii
pose julit sama yang terjulit @bellewarman
Begitu sampai puncak, itu sumpah panas dan gersang banget. Teriknya ga nahan boss. Rasanya pakai kacamata sama topi aja kurang terproteksi. Pokonya mah foto aja dulu dah urusan item belakangan. Puas foto-foto kita harus balik lagi ke kapal. Dan karena aku males kepeleset, akhirnya aku nyeker dong di Kelor dan ditemenin Bang Anto turun. Destinasi pertama aja udah bagus banget, jadi ekspektasiku sailing Flores ini semakin tinggi.

Cekrekan Manja di Manjarite
mba wulan
babang gilang @gilaaangpj yang selalu ada di setiap kamera orang
gendats
imi juga bang Guntae @aly.guntar eksis dimana mana
Destinasi berikutnya adalah snorkeling point namanya Manjarite. Sebenernya aku ga tertarik buat nyemplung, jadi aku foto-foto aja di kapal. Nah tiba-tiba Bang Anto udah ganti baju renang nenteng snorkel dan fin nyamperin aku
“kamu ga turun?’
“engga ah panas”
“yaudah aku turun”
Bener-bener yaa itu orang, yang lain baru prepare, dia udah nyebur duluan. Byuurrrrr. Karena dibujuk dan mupeng nyemplung, akhirnya aku nyemplung juga (tapi pakai life vest) dan di buddy-in sama Bang Anto. 
 manja bareng Babang Zen @z555mtq
hijab konvensional ahelah

squad kapal goyang 
 Nah berhubung aku renangnya Cuma kecipakan doang, jadi aku pengen ke dermaganya aja. Pas aku mau naik tangga ke dermaga, karangnya tajam gitu jadi baru sadar ternyata kaki aku berdarah. Meski kaki terluka tetep harus foto-foto lalala. Karena hari sudah mulai siang kami sudahi main airnya dan balik ke kapal.

Tak Ingin Bangun dari Mimpi

Balik ke kapal, aku mandi dan beberes lalu kumpul buat makan siang. Semua khidmat menikmati masakan mama yang sudah di siapkan untuk makan siang di kapal. 

Setelah selesai makan, kami berkumpul dan bercanda. Lama kelamaan, cuaca terik saat itu ditambah sepoi-sepoi angin laut yang bertiup, membuat aku yang kekenyangan ini mengantuk. Kurapatkan jaketku, dengan mudahnya mataku terperjam, dan tanpa sadar aku tertidur pulas bersandar di bahunya. Aarrrggghh rasanya aku tak ingin bangun dari mimpi.


Tak berapa lama aku pun terbangun, mataku langsung tertuju pada keindahan pulau-pulau warna kekuningan dikelilingi laut yang berwarna biru. Kulihat dari kejauhan, ombak dan arus laut samar-samar membuat pusaran kecil, menghantam gelombang arus yang lain dan membuat kapal kita sedikit oleng. Yaa ini pertama kalinya aku melihat fenomena pertemuan arus.  Tuhan, sekali lagi kumohon padamu, ijinkan aku menginjakkan kaki lagi disini. Kata-kata saja ga cukup mewakili keindahan permata di Indonesia Timur ini.

Senja yang Kunanti
Kurang lebih 3 jam kami tempuh dari Manjarite ke Pulau Padar. Sambil menunggu kedatangan kapal 10 kami habiskan quality time dengan photoshoot ala-ala diiringi gelak tawa.
nonggeng style ala @kikikiboo
koko yang ga menghitam @rickyzhang
kaka heitssss @yenni_0191
aimisyuuu kaka @wimdayanuarica
i called it moment to remember 

Sekitar 30 mnit kemudian, kapal 10 tiba dan kami bersiap untuk menyebrang ke Pulau Padar mengejar sunset.


Akhirnyaaaa aku bisa menginjakkan kaki di pulau eksotis ini. FYI gengs, di Pulau Padar sinyal full. Jadi dari awal trekking aku live instagram dan butuh waktu 20 menit untuk trekkingnya.
senyuman manja di dermaga padar
live dan ga ke save kan bloon namanya
Diawali dengan jalur tangga kayu, kemudian tangga batu dan trek licin berbatu. Jujur, aku gasuka trek tangga, karena lebih capek. Makanya aku ditinggal duluan sama anak-anak ke puncak. Matahari semakin tergelincir ke arah timur. Kukebut langkahku sambil ngos-ngosan dan sampailah di puncak Padar. Senja yang kunanti. Syahduuu sekali. Ini yang kucari.

kalo nanti aku kurus aku pengen foto kaya aul @aulazhari ama belle @bellewarman

Setelah menikmati sunset, kami pun turun sebelum matahari benar-benar tenggelam. Berangkat nanjak sendirian, turunnya ditemani Bang Anto, Bang Zen, Bang Ono, dan Bang Tegar.
Hanya mengandalkan sinar dari senter hp kami menuruni puncak Padar dan kembali ke dermaga untuk menyebrang lagi ke kapal.

Kisah Kapal 30 yang Masa Bodo

Yaa kalian tahu kan kapal kami Cuma 2, kapal 10 dan kapal 20. Setelah kembali ke kapal 20, aku kangen sama kapal 10. Alhasil aku lompat ke kapal 10 dan makan malam bareng kapal 10. Akhirnya Bang Anto ikutan ngumpul di kapal 10. Jadilah kita berdua squad kapal 30. Barang-barang kita dikapal 20 tapi kitanya di kapal 10. Maaruuukkk hahaha. Oh iya kalian juga masih inget kan sebelum berangkat sailing aku cerita di part 1 kalau aku sakit batuk, pilek dan masuk angin. Yang kubutuhkan saat itu adalah kerokan. Udah itu aja. Seharian sailing aku udah ngabisin 3 tolak angindan ga mempan. I need kerokan please. Dan di kapal 10 cewek-ceweknya ga bisa ngerokin aku. Terus tiba-tiba Candra bilang

“teh, aku bisa ngerokin teh, tapi teteh gapapa aku kerokin?”
“yaudah gapapa Candra, teteh dari kemaren nyampe Bajo emang pengen kerokan, kemaren mau di kerokin Omed juga bingung mau kerokan dimana”.
“oh yaudah teh kalo gitu aku kerokin yaa, tapi nanti gantian kerokin aku”.
“ok”

Bodo amat dah, badanku udah ga enak banget. Saking bodo amatnya aku dikerokin Candra di depan anak-anak kapal 10 dan aku ga sadar sama sekali di belakangku ada ABK (karena kita duduk di open deck belakang nahkoda). Gebleekkkk jangan ditiru, mana waktu dikerokin sendawa mulu, emang aku rada-rada stress gengs. Udah selesai kerokan, udah kerokin Candra juga, badan udah lumayan enak, akhirnya aku ke deck atas kapal pengen ngeliat bintang.

Dancing Under the Star
Ada kalanya kita harus jauh dari kata millenial, tanpa sinyal, lalu bersatu dengan alam. Setiap perjalanaku kembali ke alam, salah satu yang kucari adalah pemandangan malam bertabur bintang. Ku duduk di lazy bag di deck kapal 10 bernama Padaidi yang dalam bahasa bugis berarti “keluarga”. Yaaa aku menemukan keluarga baru di perjalanan ke Flores kali ini. Keluarga gila, gokil, kocak, apa adanya, dan peduli satu sama lain. Meski mulutnya pada jehong semua, tapi mereka sayang sama aku. Betapa bahagianya diriku.

Angin berhembus lumayan kencang, kurapatkan jaketku, dan tiba-tiba aku jauh masuk ke alam bawah sadar. Tertidurku dibawah naungan bintang. Aargghhh rasanya aku tak mau bangun dari mimpi indah ku di Flores.

Tak berapa lama, aku tersentak dan terbangun dari tidur.
“loh sejak kapan kamu disini?”, kataku kepada dia yang tiba-tiba ada di samping kakiku.
“barusan aja”
“ngapain?”
“nungguin kamu, abis kamu sendirian sih, yaudah aku tungguin aja sama liatin kamu tidur”
“ooohhh”

Hening sejenak, kami sibuk dalam lamunan masing-masing sambil memandangi bintang. Kemudian dia memutar lagu di playlist hp nya. Suasana malam itu jadi semakin syahdu. Aku coba buka obrolan dengannya tentang mimpi, tentang keluarga, tentang kehidupan pribadi, dan tentang kisah kita bisa sampai disini. Malam itu kami terbawa perasaan dan terhanyut dalam mimpi.

“kamu mau tau ga mimpi gilaku yang lain”
“apa?”
“kamu mau bantuin aku ga wujudinnya kalau aku kasih tau mimpiku ke kamu?”

Pada saat itu tiba-tiba playlist di hp nya memainkan lagu Perfect – Ed Sheeran feat Beyonce
I found a love for me
Darling just dive right in and follow my lead
Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me

“aku pengen dansa di bawah taburan bintang”
Ku tarik tangannya sampai di tengah deck, dan sambil senyum malu-malu dia melangkahkan kaki mengikuti.
“aku ga bisa dansa loh”
“yuadah dansa ala-ala aja, aku juga ga bisa dansa kok”

Baby I’m dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favorite song
When you say you looked a mess
I whispered underneath my breath
But you heard it
Darling you look perfect tonght

Dia melingkarkan tangannya ke pinggangku, dan kulingkarkan lenganku ke bahunya. Sambil melangkah maju mundur tak pasti, kami berdansa dan terus berdansa ala-ala. Flores kala itu romantis sekali. Sampai kami lupa kalau dunia bukan hanya milik kita.

“lu pada ngapain, berisik amat?” kata Bang Ono sambil mengintip ke atas deck kapal sambil lalu.
Hahahaha kami tertawa dan kami baru sadar sudah tengah malam, saatnya kami beristirahat.

“Terima kasih sudah membantu aku mewujudkan mimpi gilakuu”
“akupun juga semakin gila karena mengenalmu”

Masuk ke Kandang Ular Berbisa

Aku kembali ke kapal 20, aku masuk ke kamarku dan itu panas banget, AC nya ga berasa sama sekali.

“cyn, kamu mau tidur dimana?” kata kak Vindia
“gatau kak, disini 3 orang aja panas banget, apalagi kalau ditambah aku”
“terus kamu mau tidur mana cynt?”
“aku coba cari lapak dulu deh kak. Kaka lanjut bobo gih”
“ok”

Duh semua kamar di kapal 20 udah pada penuh, yaudah deh ngungsi ke kapal 10, aku coba tidur di kursi tapi anginnya kenceng. Daripada masuk angin lagi akhirnya aku masuk ke kamar kasur tingkat isinya Cuma 1 orang dan u ngorok tanpa jeda, ampun astagaaa. Dengan terpaksa dan berat hati akhirnya aku masuk dan tidur di kandang ular berbisa. Ngggoookkkk ngooookkkkkk ssssttttt sshhhhhh sepanjang malam ga ada jeda. Ohmaygat ga bisa tidur nih kaya begini, akhirmya aku pindah ke kamar sebelah. Bunk bed atas ada Aul, bunk bed bawah Bang Zen. Hhmmm berhubung Bang Zen tidur di pojokan dekat tembok, yaudah deh aku tidur samping Bang Zen. Anjrit mana AC dingin banget lagi, yang penting tidur deh dibungkus ama jaket. Setidaknya aku ga tidur di kamar ular berbisa. Ketika tidurku semakin pulas aku kaget tiba-tiba ada yang nowel pipiku.

“ini siapa sih?” sambil nowel pipiku
“apaan sih bang?”
“oooohhh eluuuuu, ngapain lu disini?” kata Bang Zen
“gue ga dapet lapak bobo, yaudah gue tidur sini deh”
“gue kira siapa, kalo cowo kok rambutnya panjang, kalo cewe kok badannya gede kaya cowo, yaudah bangun gih cyn, kita mau sunrise an di padar”
“ok” (dalam hati kamvred anda Bang Zen hahaha)


Dan begitulah kisahkuuu wkwkwk lanjut ke Part 4 yaa gengs jangan bosen-bosen.






You May Also Like

2 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Asyik catatan perjalanannya, Mbak. Labuan Bajo memang bikin selalu kangen balik ke sana.
    O ya, ini kunjungan perdana saya ke blog-nya Tante Julit hehehe

    Kita sama-sama ikutan workshop SEO lalalaway.com kemarin


    Salam kenal, https://jelajahlangkah.wordpress.com/

    BalasHapus