Sabtu, 24 Juni 2017

Ini Surabaya versi julit ku, kalau kamu???

Apa yang ada di pikiranmu tentang Surabaya? Panas? Jancok? Dolly? Hmmmmmmmmm



Setiap kali ditanya “asli mana?” aku jawab “Surabaya”. Nah ternyata apa yang di pikiran kebanyakan orang tentang Surabaya yaa seperti itu. “Dolly ya?” atau “Ih Surabaya kan panasnya ngelebihin Jakarta” atau “oooo juancookk” dengan nada medok ala-ala yang dibuat-buat. Surabaya memang masih panas dan semakin panas. Jancok? Itu tetap masih menjadi kata-kata kota kita. Tapi Dolly nya udah di tutup gengs. No more Dolly in Surabaya geng.

Dulu Surabaya itu hanya sebagai kota persinggahan, kota transit bagi para traveler untuk menuju destinasi wisata lain di Jawa Tmur, misal Bromo, Malang, atau Banyuwangi. Sekarang semuanya berubah.  Sebagai anak rantauan, aku juga pengen tahu dong millenialisasi Surabaya, bukan hanya mupeng ngeliatin foto2 cantiknya Surabaya lewat akun instagram @aslisuroboyo. Jadi beberapa waktu lalu aku lagi edisi pulang ke kota (bukan pulang kampung). Aku sempetin datang ke wisata yang lagi hits di Surabaya, berhubung cutiku juga ga banyak jadi ga sempet semua di datengin. Tapi udah masuk wishlist kok ntar kalau pulang lagi ke Surabaya mau kemana aja dan ngapan aja. Nah kalau kamu punya kesempatan singgah di Surabaya udah tahu belum mau kemana aja? Yok rek melok aku ngelencer nang Suroboyo (yuk gengs ikut aku jalan-jalan keliling Surabaya).

Tugu Pahlawan Simbol Heroik Kota Pahlawan
Kalau Jakarta punya Monas, Surabaya punya Tugu Pahlawan. Arek Suroboyo iku wani, bondo nekat tok ae budhal. (Anak Surabaya itu berani, modal nekat saja berangkat). Dan monumen ini adalah simbol haqiqi that Surabaya is Hero City.


Tugu Pahlawan
Alamat : Jl. Pahlawan, Surabaya
HTM : IDR 5K

Wisata religi Sunan Ampel
Kalau kalian lagi traveling ke suatu daerah, jangan cuma cari wisata hits atau tempat makan hits, sesekali kalian juga harus ada unsur wisata religinya. Dan aku menyempatkan untuk beribadah di Masjid Sunan Ampel (tadinya mau ke Masjid Agung tapi ga keburu). Kalau kalian mampir ke kawasan ini pasti berderet kios-kios yang jualan baju koko sampai kurma, karena ini kawasan wisata religi Sunan Ampel, dimana terdapat makam Sunan Ampel salah satu penyebar Agama Islam di Pulau Jawa dengan Walisongo.



Wisata religi Sunan Ampel
Alamat : Jl. Pertukangan 1, Ampel, Surabaya
HTM : gratis (Cuma bayar parkir aja)

House Of Sampoerna, cikal bakal pabrik rokok terbesar di Indonesia
Bangunan megah ala-ala Belanda dan bau tembakau yang khas menyambut kedatanganku kala itu. Seumur-umur hidup di Surabaya itu adalah pertama kalinya aku datang dan berkunjung ke House Of Sampoerna.  Bangunan kokoh yang menunjukkan bahwa ketekunan, kerja keras, doa dan mimpi tidak akan pernah mengkhianati hasil. Siapa sangka yang tadinya sebuah warung kecil sekarang menjadi salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia. Kece kan. Disini juga ada bus city tour yang unik namanya Surabaya Heritage (kalau di Bandung namanya Bandros). Sayanganya untuk menikmati fasilitas gratis city tour Surabaya harus reserve dulu dan ada jam yang berlaku (ga kebagian gengs huft).




House Of Sampoerna
Alamat : jl Taman Sampoena No. 6 Pabean Cantikan, Surabaya
HTM : gratis (Cuma bayar parkir aja)

Kenjeran Park, Dulu terbengkalai sekarang makin aduhai.
Masih teringat jelas sekali memori di masa kecilku dulu sewaktu main ke rumah mbah lokasinya persis di samping pintu masuk Kenjeran. Dan untuk menuju kesana biar gratis, ada tembok yang sengaja di lubangi seukuran manusia. Inget banget, Kenjeran dulu kumuh, kotor, ga terawat, semua fasilitasnya karatan, jorok. Sirkuit balapan motornya banyak rumput tinggi-tinggi ga pernah di potong. Ah pokoknya parah. Nah beberapa tahun kebelakang Kenjeran mempercantik diri. Sekarang Kenjeran Park menjadi salah satu pusat sembahyang masyarakat Budha di Surabaya. Masyarakat yang non Budha pun juga bisa masuk dan berfoto di sana. Sayangnya, aku kesana waktu siang dan panasnya ampun ga nahan, coba kalo sore gitu sambil nunggu sunset ditemani deburan ombak pasti suasananya jadi makin syahdu.




Kenjeran Park
Alamat : Jl. Raya Pantai Lama, Kenjeran, Surabaya
HTM : untuk 2 orang dengan 1 motor IDR 35K

Monumen Jalesveva Jayamahe, di laut kita jaya
Hmmm setidaknya aku patut berbangga menjadi anak seorang TNI AL berpangkat kopral. Dari kecil aku bisa mengunjungi Monumen Jalesveva Jayamahe ketika Hari Armada dan pernah naik ke atas monumen tersebut. Karena Monumen ini adalah Markas Besar TNI AL jadi super duper sulit untuk mengunjungi ataupun sekedar foto disana karena penjagaannya sangat ketat dan tidak sembarang orang bisa masuk. Jadi nikmati aja foto-foto nyaa yaa siapa tahu dapet jodoh anggota TNI AL jadi bisa kesana *eh



Monumen Jaleveva Jayamahe
Alamat : Ujung, Surabaya
HTM : -

Tempat pembuangan yang menjadi tempat kenangan
Dulu disini itu jorok dan kumuh karena merupakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tapi setelah di sulap sedemikian rupa, Hutan Bambu yang bersebelahan dengan Taman Sakura menjadi salah satu tempat foto prewedding favorit di Surabaya. Ica kali foto cendilian dulu disini calonnya nyusul.




Hutan Bambu dan Taman Sakura
Alamat :  Jl. Raya Marina Asri, Keputih, Surabaya
HTM : gratis (Cuma bayar parkir aja)

Hutan Mangrove Wonorejo
Surabaya juga gamau kalah dengan Jakarta yang punya Wisata Mangrove di Pantai Indah Kapuk atau Bali dengan Wisata Hutan Mangrove yang kalau kita mampir kesana isinya bule semua. Kebetulan aku udah pernah datengin hutan mangrove yang ada di Jakarta dan Bali. Nah sekarang giliran Surabaya. Ga kalah kece kok sama Hutan Mangrove yang lain, cocok juga buat foto prewedding dan lokasinya bersih. Kayu-kayu untuk kita jalan menyusuri hutan mangrove nya bagus dan ga lubang-lubang (terakhir kali aku ke Hutan Mangrove Bali banyak jalan kayunya yang lubang dan kurang terawat). Karena aku kesana udah kesorean menuju maghrib jadi aku gratis masuknya. Keep julit gengs.


Hutan Mangrove Wonorejo
Alamat : Jl. Raya Wonorejo 1, rungkut, Surabaya
HTM :  IDR 25K/ orang

Surabaya North Quay
“Tanjung Perak tepi laut. Siapa suka boleh ikut.” Cuplikan lagu yang menyatakan bahwa Tanjung Perak adalah salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu pintu perdagangan terbesar di Surabaya. Kini jadi tempat hits dan tempat bersandar kapal-kapal pesiar kalau sedang ada event. Nanti kalau pulang kota lagi aku harus kesini dan kalian juga kesini yaa apalagi kalo sore waktu sunset pasti syahdu banget gengs. (kebayang gimana romantisnya kalau dilamar diatas kapal pesiar pas sunset omaygaaattttt).


Surabaya North Quay
Alamat : Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya
HTM : gratis (Cuma bayar parkir aja) kalau mau naik kapal keliling selat madura bayar IDR 75K/orang

Surabaya Carnival
Kalau Jakarta punya Dufan, Surabaya juga ga mau kalah, ada Suroboyo Carnival. Theme Park keren dengan berbagai wahana menarik menjadikan masyarakat Surabaya akhirnya bisa move on dari TRS (Taman Remaja Surabaya) . Aku belum sempet kesana jadi aku ga bisa review banyak. Tapi Suroboyo Carnival sudah masuk ke wishlist aku kalau aku pulang kota lagi.


Surobaya Carnival
Alamat : Jl. Ahmad Yani No. 333 Surabaya
HTM :  IDR 80K/ orang

2 jembatan kebanggan Surabaya
Sudah tahu Jembatan Suromadu kan? Ituloh jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa khususnya dari daerah Surabaya menuju Pulau Madura. Nah sekarang ada jembatan baru lagi gengs kebanggan masyarakat Surabaya yaitu Jembatan Kenjeran. Jembatan melengkung yang menghubungkan antara Pantai Kenjeran Lama dan Pantai Kenjeran Baru. Kalau menuju ke jembatan ini kalian juga akan melewati Kampung Warna Warni Bulak Surabaya. Dan kalau malam minggu ada air mancur menari nya. Kece kan.




Belanja dan Makan
Kalau masalah makan, Surabaya itu surga kuliner pecinta petis. Ada rujak, lontong balap, lontong kupang, gado-gado, uenak-uenak pokoke. Dan oleh-oleh dari Surabaya adalah Lapis Surabaya dan Surabaya Snow Cake by Zaskia Sungkar. Cobain mampir deh pasti ketagihan. Ga cukup kalo cuma bawa 1 kotak doang.


Lapis Surabaya
Harga : Range IDR 25k – 40K

Surabaya Snow Cake
Harga : Range IDR 50K – 65K

Aneka taman dan monumen instagramable
Hampir di setiap sudut kota Surabaya ada taman cantik yang instagramable dan monumen yang masih berdiri dengan kokohnya. Kesemuanya gratis loh. Kece kan. Paling bayar parkir doang. Taman dan monumen ini akan kalian temui di sepanjang jalan utama di Surabaya. 





Big thanks to Our Governor Bu Risma , Walikota Surabaya selama 2 periode, yang sudah menjadikan Surabaya menjadi kota yang layak huni, modern, aman, nyaman, semakin rindang dan cantik dengan banyaknya taman di sudut-sudut kota. Menurut Bu Risma kota itu akan maju ketika banyak taman. Karena taman merupakan tempat berkumpulnya si miskin dan si kaya. Si kaya tidak malu datang ke taman karena tamannya bagus, si miskin senang datang ke taman karena gratis ga bayar. Yang kecil bisa bermain, yang tua bisa berolahraga, dan yang muda bisa berkumpul, tidak ada lagi kesenjangan sosial, dengan begitu tingkat kriminalitas berkurang.


Surabaya, Surabaya Oh Surabaya
Kota kenangan, kota kenangan, takkan ku lupa
Di sanalah, di sanalah, di Surabaya
Kami berjuang, kami berjuang bertaruh nyawa

Meskipun aku jarang pulang ke Surabaya semenjak di tanah rantauan, bagaimanapun juga Surabaya adalah tanah kelahiranku. Tidak akan hilang aksen medok itu. Dan aku juga masih fasih bilang “jancok”. Surabaya adalah kota dimana sakarepmu (terserah kamu) adalah kuncinya. Kota dengan toleransi beragama tinggi. Kota yang terus maju dengan millenialisasi. Kota tempat bermula ku tentang mimpi.

Jadi sekarang kalau ada yang tanya “asli mana?” jawab dengan bangga “Aku Arek Suroboyo!”

See you next julit gengs

Minggu, 18 Juni 2017

Tertular virus julit di Ancol

“hey hey kapan kita mau kemana? Abisin duit kas yuk gengs. Duit kas kita ada 476.000 loh.”


FYI gengs, kalian semua udah tahu kan aku kerja sebagai call center bank swasta. Jadi setiap per 4 bulan kita rolling team nih. Nah dari Bulan Januari – April 2017 aku masuk ke team nya Bu Siti dan member happy team nya terdiri dari aku, Kak Eva, Bang Toge, Kak Jeri, Bang Winar dan Om Tama. Kesepakatan yang kita buat adalah uang kas per bulan 10.000 dan setiap pelanggaran yang per individu lakukan ada punishment nya berupa bayar denda sampai akhirnya terkumpulah uang kas sebanyak 476.000 dan kali ini kita mau party cantik buat ngabisin uang kas nya. Tercetuslah buat makan seafood . Dapet rekomendasi dari Kak Coki dan Kak Nining  makan seafood yang enak, murah, dan banyak itu di seafood PLTU Ancol. Karena Kak Coki dan Kak Nining cerita seafood nya menggebu-gebu, semangat dan bergairah banget kita penasaran dong. So kita putuskan untuk cuss ke Ancol.


Singkat cerita nih, hari yang dinanti tiba, mana Hari Sabtu, malem minggu plus makan seafood, ada yang jomblo lagi, mantap. Kita meeting point di Stasiun Tanjung Barat jam 2 siang. Jam 2 siang gengs! Bayangin gimana panas ga manjanya djekardah saat itu !!! komunikasi via whatsapp, Bu Siti yang dateng duluan disusul Kak Eva, Bang Toge dan Om Tama. Karena aku sebelumnya abis nengokin Kak Baim (spv aku yang sedang sakit masuk angin di RS Harapan Bunda, GWS Kak Baim) sekaligus jalan-jalan tipis-tipis bareng Kak Brenda (anda lagi, anda lagi) jadi aku datengnya nyusul. Tapi kali ini aku ga jalan sama Kak Brenda soalnya beda team. Nah ternyata Bang Winar uncontacted dan Kak Jeri baru bangun abis jaga shift pagi. Jadi mereka berdua ga ikut.



Sesuai dengan arahan Bang Toge yang meyakinkan banget, doi bilang kalau kita naik KRL turun di Kota abis itu lanjut busway arah Ancol ga pakai transit. Udah nih berangkat akhirnya. Kita cewe-cewe duduk mengapit 1 orang cowo terus Bang Toge dan Om Tama berdiri di depan kita. Sebenarmya kondisi KRL saat itu ga penuh gengs tapi mungkin karena space kosong yang agak lebar cuma disitu aja so we have to apologize to the young man between us for annoying him (ngusir allluuuussss). Sampailah kita di Kota jam 4 sore dan lanjut jajan batagor sama cimol. Untungnya tadi Bu Siti beli roti sobek sama 2 teh botol jadi kita share cemilan dan minum ala-ala deh. Lumayan lah buat ganjal perut bagian kanan. Lebay juga sih kita ga ada yang makan sebelum berangkat katanya biar puas makan seafood nya.




Kemudian kita jalan kaki lewati terowongan penyeberangan orang menuju halte busway, tapi ga ada yang arah Ancol langsung ternyata, harus transit dulu. Ah elah Bang Toge. Mana kita harus transit di Gunung Sahari dan kita terjebak macet absurd di pertigaan Mangga Dua dan setelah perjalanan 2 jam alhamdulilah sampai juga di halte Ancol. Noted masih halte Ancol ya. Halte Ancol sendiri terintegrasi langsung dengan pintu masuk Ancol. Dimana kita harus membayar IDR 25K per orang total IDR 125K. Setelah itu kita harus naik wara wiri lagi. Mana kita seharusnya naik wara wiri nya rute utara tapi berhubung yang datang rute selatan jadi naikin aja dulu. Transit lagi sembari nunggu wara wiri rute utara foto-foto lah kita. Terus ga lama datanglah itu wara wiri rute utara yang dinanti. Berjubel berebutan penuh sesak demi mencapai Pantai Ancol. Akhirnya sampai juga dari perjalanan julit tak berujung.












Puas foto-foto shayyy, apalagi Bu Siti udah punya anak berasa abg lagi ughlalaaaa, akhirnya cuss ke tempat seafood . Dan lagi-lagi Bang Toge ngajakin kita jalan kaki kesana yang katanya deket cuma 30 menit dengan jarak tempuh 2.4 km. Omaygaaatt drama banget deh. Malem-malem jalan kaki mana Ancol kalo malem serem kan lampunya jarang dan jalannya gelap. Untung jalannya ramean, kalo sendiri mah ogah. Jalan, jalan, dan terus jalan cuma bisa bilang “Bang Toge kapan nyampe sih”.  Dan doi bakal jawab “dikit lagi kok” atau “bentar lagi sampe kok”. Ah dasar Bang Togenya aja php. Sampai ketika kita nemu vending machine untuk minuman kaleng di tengah perjalanan berasa nemu harta karun (bayangin kalo di film kartun ada efek-efek bersinar gitu). Dan Kak Eva baru pertama kali pakai vending machine dan baru tahu cara pengoperasiannya eh dianya heboh sendiri (jadi kalau mau pake vending machine sewaktu memasukkan uang ke mesin, kondisi uang harus lurus dan rapi, ga boleh ada lipatan, kalau ada lipatan pasti mesin akan nolak. Nanti setelah uangnya masuk, mesin akan proses dan kita bisa pilih minumannya. Selesei deh). Glek glek glek aah segeerr. Tenggorokan ga kering lagi.



Hampir 45 menit kemudian akhirnya dari jauh mulai kelihatan lampu-lampu yang menerangi warung-warung seafood. Langkah kaki kita pun makin dipercepat karena ga sabar makan seafood kiloan. Berjejer lebih dari 10 warung seafood di sana tapi diantara yang lain, warung seafood cirebon yang paling mentereng ramenya.  Jadi ada banyak sari laut kiloan disana. Kita pesen udang, cumi, kerang dara, kerang ijo, kerang bambu, dan cah kangkung. Untuk bumbunya sendiri kita bisa request mau apa aja bisa saos tiram, saos padang, lada hitam atau goreng tepung. Dan yang paling recommended adalah saos tiramnya, enak banget. Kalo cah kangkungnya keasinan menurutku. Ditambah nasi ngepul dan rasa lapar yang luar biasa hmmm nikmatnya.


Speed makan kita diawal gas pol rem blong. Kupas kerang, cocol saos, makan. Comot cumi, makan. Comot udang, makan. Makin lama makin slow dan cocolin bumbu saos tiram itu favorit aku banget. Serius biasanya kalo makan seafood gitu rasa sedap dan enaknya cuma bertahan di lidah tapi kalo seafood yang ini bener-bener bikin nagih dan bikin pengen nyomot terus. Nikamt banget. Dan ternyata tau ga sih untuk 1 kg cumi, 1 kg udang, 1,5kg kerang 3 macam, 2 porsi cah kangkung, 5 nasi, 4 es teh dan 1 es jeruk Cuma IDR 315K. Murah banget kan! Tapi nunggu makanannya alemong bo’ bisa hampir sejam sendiri (mungkin karena kondisi malem minggu dan waiting list). Untuk tempat kita bisa pilih yang lesehan atau kursi. Tapi suasanya ga cozy karena banyak lalat (efek sari laut) dan banyak pengamen. So far seafood PLU ini recommended banget gengs buat kalia yang mau menghabiskan akhir pekan di jakarta ramean bareng keluarga atau sahabat.





Udah jam 9 malam nih saatnya kita pulang. Order ojek online dan ga ada yang mau ambil dong. Akhirnya jalan kaki lagi ke jalan raya yang luamayan jauh dari tempat seafood tadi. Mana isinya debu dan truck gede-gede ah elah udaranya ga sehat. Setelah menunggu lumayan lama akhirnya angkotnya dateng. Kosong melompong penumpangnya Cuma kita doang. Dan kamu tahu gimana rasanya naik angkot rasa fast and furious? Ngerem bener-bener mepet banget ama pantat tronton. Begitu ada jalan bergelombang kita ikutan terbang. Dan supirnya malah ketawa ngeledekin kita. Ahelah. Cukup sekali naik angkot yang model begini syukur-syukur sampe di Stasiun Kota lagi. Dan kita berpisah disini. Om Tama arah Bekasi, Kak Eva ke arah Tanah Abang jadi transit dulu di Manggarai. Bang Toge ke Stasiun Depok. Aku dan Bu Siti turun di Pasar Minggu.

Setelah dipikir-pikir akhirnya mereka semua ketularan virus julitku. Gimana engga, coba bayangin berapa uang yang kita habiskan untuk berlima?
Seafood IDR 315K
Tiket masuk Ancol IDR 125K
Angkot IDR 20K
Total IDR 460.000 sisa IDR 16K malah.
Tuh julit banget ga gengs. Dari sisi biaya julit, kita ga over budget. Dari sisi transport juga julit. Naik KRL nyambung busway dan olahrga 2.4km. Naik angkot ala-ala fast and furious lagi. Kalian kece gengs.

Aku belajar banyak dari Bu Siti, ibu-ibu gaul yang udah punya anak 2 tapi bisa menempatkan posisi sebagai abg lagi yang mau aja diajak jalan kaki padahal sebenernya mungkin beliau udah lelah dengan php Bang Toge. Aku belajar dari Bang Toge gimana doi bisa menyelimurkan kenyataan bahwa dia sok tahu dan meyakinkan banget pernyataanya. Aku belajar dari Om Tama yang enjoy dengan apa adanya dirinya pake celana pendek dan sendal jepit. Aku belajar dari Kak Eva, cewek cantik polosyang tidak malu bilang kalau ini pertama kalinya dia ke Pantai Ancol dan baru tahu cara menggunakan vending machine.


Kadang-kadang momen seperti ini jarang terulang lagi, mungkin ga bakal terulang lagi malah. Setiap perjalanan pasti ada kesan dan pesan tersendiri. Begitupun perjalananku bareng temen-temen kantorku kali ini yang akhirnya secara ga sengaja aku menularkan virus julit ke mereka dengan penuh canda tawa meski php tiada henti. Julit ga berarti kamu ga bisa enjoy dan menikmati kebersamaan dengan teman-teman kalian. Justru julit membuat kalian semakin akrab dan secara ga langsung kalian lebih megenal secara personal dengan orang tersebut



See you next julit gengs.